|

Usia malam tinggal separoh. Bedung dimasjid Agung Demak telah berkali – kali ditabuh. Pertanda pertengahan malam telah dimulai. Diserambi masjid tampak barisan tubuh para peziarah yang kelelahan. Biasanya mereka adalah rombongan asal Jawa Timur, sama seperti kami. Berangkat pukul 07.00 WIB tanggal 29 Mei 2012 dan berakhir 30 Mei tengah malam.
Study religi tahun ini memang berbeda dengan tahun sebelumnya. Ada lima makam wali yang harus kami ziarahi. Diawali dari makam sunan Bonang, sunan Muria, sunan Kudus, sunan Kalijaga dan berakhir dimakam Raden Patah, pendiri kerajaan Demak Bintoro. Setiap makam yang kami ziarahi, kami diajak membaca tahlil dan do’a bersama dengan harapan semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat agar studi kami selepas lulus dari MTs. Ihyaul Ulum lancar tanpa hambatan. Selain itu, kami juga mendapat titipan doa dari kepala Madrasah agar disetiap tempat ziarah kami membaca “ yaa,hayyu yaa,Qoyyuum” sebanyak 200 kali setiap siswa. Barokah dari bacaan ini ditujukan untuk kelancaran pembangunan gedung MTs. Ihyaul Ulum II.
Selama perjalanan banyak pengalaman menarik. Terutama saat kami memasuki area lokasi makam sunan Muria. Untuk mencapai lokasi, kami harus naik ojek. Tahu ngak, ojek di Muria tergolong ojek nekat, super cepat plus agak ngawur. Tidak kalah dengan pembalap sekelas Valentino Rossy atau Casey stoner. Bulu kuduk merinding, saat sepeda motor mulai melaju. Medan muria yang curam, berkelok – kelok ditambah jurang yang dalam dikanan kirinya membuat jantung seakan berhenti berdetak.
“ Waduh aku kapok, gak kapene numpak mane” ucap sholeh selepas turun dari sepeda motor. Mendengar ucapan itu tukang ojek hanya tersenyum saja.
“Nek ngene ceritane tukang ojek nang kene iso melu GP” tambah Aziz melengkapi cerita seramnya perjalanan menuju makam sunan Muria.
|